Kamis, 24 November 2022

KENANGAN HUT GURU 2021

 

KENANGAN HUT GURU 2021 

Hari ini, tepat setahun yang lalu peringatan HUT Guru Nasional ke 76 tahun 2021. Kala itu sekolah tempat aku mengajar melaksanakan kegiatan secara meriah dengan mengedepankan protokol kesehatan karena masih dalam masa pandemi covid 19.

Kemeriahan acara pagi itu mengusung tema “Bergerak dengan Hati, Pulihkan Pendidikan”, sesuai dengan tema hari guru Nasional. Tema tersebut dipilih pemerintah mengingat sekarang dunia pendidikan juga sedang berjuang memberikan pendidikan untuk generasi muda bangsa di tengah-tengah masa pemulihan pasca pandemi covid 19.

Ada yang mengiris hatiku ditengah kemeriahan pagi ini, hatiku pilu hatiku rindu dengan diriku yang dulu. Semua bapak, ibu guru, karyawan dan anak-anak berkumpul dilapangan kecuali aku yang hanya bisa duduk terdiam di kursi depan ruang guru seraya merasakan sakit kepala yang terus menerus dan tak kuasa untuk untuk berbuat apapun.

Semua larut dalam gegap gempita, tak terasa air mataku menetes, terdengar cengeng tapi itulah yang terjadi. Aku berusaha menyembunyikan kesedihanku, dan dengan cepat segera aku hapus air mata menggunakan ujung kerudung yang aku kenakan. Aku tak ingin teman-teman guru yang lain tahu kesedihan yang ku rasakan saat ini.

Aku berusaha membesarkan hati mencoba belajar ikhlas dengan keadaanku, tapi aku hanya manusia biasa yang tak bisa menyembunyikan rasa itu.  

“Ya Allah… kapan cobaan sakit ini akan berakhir?”,

“Kapan ya Allah?” Kembali air mata ini mengalir.

Sudah lebih dari 5 tahun aku terbelenggu dengan berbagai pemyakit, silih berganti diagnose dokter dan aku pun tidak bisa hidup normal seperti yang lain.

Aku rindu diriku yang dulu. Aku ingin berkumpul dengan mereka dalam berbagai kemeriahan acara tanpa rasa sakit dan bisa merasakan apa yang mereka rasakan saat ini

“Ya Allah bantu hamba untuk sabar dan ikhlas!”. Pintaku dalam hati.

Sekitar pukul 10.00 WIB acara selesai dan anak-anak secara bergantian masuk kelas nya. Kemudian aku pun masuk ruang guru menuju meja kerjaku untuk merapikan tas dan barang bawaan, karena hari ini ada penjadwalan fisioterapi dan MRI dari Rumah Sakit yang selama ini merawatku.

Magnetic resonance imaging (MRI) merupakan pemeriksaan organ tubuh yang dilakukan dengan menggunakan teknologi magnet dan gelombang radio. Sering dilakukan dan berkaitan dengan pemeriksaan terhadap otak, saraf tulang belakang, jantung, pembuluh darah, tulang, sendi, jaringan lunak, dan organ-organ tubuh lainnya.

Semua teman guru masuk sambil membawa setangkai bunga mawar pemberian anak-anak sebagai hadian HUT guru. Salah satu teman seniorku bu Sriatun mengampiriku dan memberikan setangkai bunga mawar seraya bertanya:

“Mau kemana nok kok sudah berkemas?” Panggilan nok sering teman-teman guru sematkan untukku sebagai panggilan sayang mereka.

“Ke rumah Sakit Kariadi mak, ada jadwal fisioterapi dan MRI kepala!” Jawabku sambil tersenyum untuk menyembunyikan kesedihan hati.”

Dari dulu kita satu kantor memang sangat akrab dan masing-masing memiliki panggilan sayang yang berbeda walaupun beda usia dan aku mempunyai panggilan sayang buat beliau yaitu “Mak.”

“Ya sudah…hati-hati ya nok dan tetap semangat ya!”

“Siap Mak laksanakan!”

Jawabku sambil tetap tersenyum.

Tak lupa aku juga pamit dengan teman-teman yang berada di ruang guru:

“Friends pamit ke Rumah Sakit Kariadi dulu ya… nanti kalau fisioterapi dan MRI selesai awal, aku kembali ke sekolah lagi doa kan ya Friends!”.

Mereka menjawab kompak “Hati-hati ya nok semangat!”

Kemudian ku langkahkan kaki menuju ruang Kepala Sekolah untuk meminta ijin dan segera setelah itu aku keluar gerbang sekolah dimana suamiku sudah siap disana untuk mengantar aku ke Rumah Sakit.

Perjalanan lancar hanya memerlukan waktu 20 menit aku sudah sampai di Rumah Sakit, kemudian aku menuju bagian pendaftaran fisioterapi didampingi suamiku dengan masih mengenakan pakaian seragam PGRI kebanggaan sebagai guru. Pasien hari ini sangat banyak sehingga waktu menunggu terapi lebih lama dari biasanya.

Tibalah nama ku dipanggil petugas untuk menuju ruang fisioterapi, terapis dengan sigap memasang alat-alat dan proses fisioterapi berjalan 30 menit. Terapi ini diprogramkan dokter untuk menghilangkan sakit di pinggang belakang yang menjalar sampai ke kaki kanan sehingga aku kesulitan berjalan. Aku harus menjalani program ini selama 8 kali dalam 1 bulan dan di jadwalkan seminngu 2 kali program.

Selesai program fisioterapi aku didampingi suami menuju gedung Kaswari Rumah Sakit Kariadi Semarang untuk melakukan program MRI yang sudah dijadwalkan. Aku harus menunggu antrian untuk program ini selama 1 bulan karena memang banyaknya pasien yang membutuhkan.

Program MRI kepala bukan kali pertama bagiku, karena pada tahun 2019 aku juga pernah melakukan. Aku sudah tahu betul apa yang harus dilakukan, sebelum tindakan MRI aku di wajibkan test lab darah dan puasa 4 jam.

Sebelum masuk ke ruang MRI, aku dihampiri dokter kemudian dia memperkenalkan diri terlebih dahulu sebelum aku di periksa, selanjutnya dokter menanyakan identitas aku mulai dari nama, no rekam medis, kemudian dicocokan dengan data yang ada, setelah dinyatakan benar dokter menanyakan apa yang dirasakan saat ini:  

“ Apa yang ibu rasakan?”, Tanya dokter

“ Kepala sakit berpindah pindah, terus menerus dan rasanya juga panas, keseimbangan badan terganggu sering mau jatuh, tidak bisa jalan lurus, tidak bisa berdiri di garis lurus, dan leher terasa kaku sakit,” jawabku pelan.

Kemudian dokter menuliskan apa yang aku katakan pada selembar kertas, dokter masuk kembali ke dalam ruangan nya. Beberapa saat kemudian dokter datang lagi sambil membawa jarum suntik.

“ Permisi ya bu… ibu saya suntik test alergi dulu karena nanti MRI akan menggunakan cairan contras, ini untuk mengetahui apa ibu alergi cairan contras apa tidak?”

Aku mengangguk tanda setuju, kemudian dokter menyutikan di tangan sebelah kiri dan melingkari sekitar bekas suntikan menggunakan bolpoint sebagai tanda. Aku disuruh menunggu 15 menit apabila dirasa aman tidak ada gejala lain kemudian dilakukan MRI.

Alhamdulillah tidak ada gejala lain kemudian aku di panggil menuju ruangan MRI, aku di persilahkan berbaring dan perawat dengan sigap memasang peralatan. Aku menanyakan kepada perawat bagian kepala mana yang akan di MRI dan perawat menjelaskan kalau aku harus menjalani MRI untuk pembuluh darah otak.

Aku hanya bisa berdoa semoga MRI lancar dan hasilnya pun baik. Proses ini memakan waktu kurang lebih 2 jam dengan suara yang sangat bising dengan berbagai macam suara, aku hanya bisa berdoa dan bersholawat.

Alhamdulillah MRI berjalan lancar. Akan tetapi karena kondisi kesehatan ku yang kurang bagus, selesai program ini aku harus dibantu turun,  keluar dari ruanganpun masih sempoyongan dan mual sehingga butuh waktu beberapa saat untuk pemulihan dan di perbolehkan pulang.

Sesampainya di loby gedung suami bergegas menuju parkiran mobil, mengambil mobil dan menggendong aku masuk ke dalam mobil. Tak terasa air mata menetes. Sambil menyetir mobil suami ku mengusap kepalaku sambal berkata:

“Sabar ya mi!”,

“Iya” jawabku,

Sambil menangis sesenggukan aku berkata:

“Makasih ya pi selama ini selalu mendampingi disaat susah dan senangku!”

 Dalam hati aku berdoa:

“Ya Allah…Ya Raab ku… berikan kesabaran, keikhlasan, untuk menjalani takdir yang engkau berikan, beri kekuatan!”,

“Ya Allah…Ya Rabb ku…Hamba sangat percaya engkau pilih aku karena aku mampu!”

Tujuh hari kemudian hasil MRI bisa diambil dan aku pun langsung konsultasi ke dokter yang merawatku. Dokter membaca hasil MRI dan menyarankan aku untuk rawat inap untuk program berikutnya karena menurut dokter  hasil MRI terdapat penyumbatan pembuluh darah vena otak.

Hari ini ke delapan kalinya dalam 4 tahun terakhir aku berada di IGD Rumah Sakit Kariadi Semarang untuk rawat inap. Sama seperti rawat inap sebelumnya IGD begitu ramai dengan pasien yang menunggu mendapatkan ruangan perawatan dengan berbagai keluahan penyakit. Pasien datang dari berbagai daerah di Jawa Tengah karena mamang Rumah Sakit ini merupakan rujukan dan terbesar di Jawa Tengah bahkan ada banyak pasien dari luar Jawa Tengah.

Aku harus menunggu mendapatkan ruangan sama dengan pasien yang lain. Tindakan yang aku dapat di IGD adalah pemeriksaan awal oleh dokter jaga, pemasangan infus, swab covid 19, foto torak rontgen dan aku juga mendapatkan obat serta makan sesuai jadwal.

Setelah 20 jam menunggu akhirnya aku mendapatkan ruang perawatan, Ruang Kutilang dasar no 102 lega rasanya bisa mendapatkan ruangan, aku didampingi suami dan petugas memasuki ruangan tepat adzan subuh terdengar.

Kemudian perawat mempersilahkan aku untuk beristrahat karena nanti siang akan dilakukan pemeriksaan oleh dokter, cek lab darah, dan pemeriksaan penunjang lainnya sebelum penjadwalan DSA.

Sebelum beristirahat aku meminta suami untuk mengambilkan mekena, dalam keadaan apapun aku ingin menunaikan kewajiban sholat menyembah Allah karena aku hanya mahkluk dan Allah adalah penciptaku. Kemudian aku tayamum karena kondisi badan yang lemah dan tidak bisa mengambil air wudhu dan sholatpun dalam posisi berbaring.

Aku menempati ruangan kelas 1 pada ruangan ini, sesuai dengan standar BPJS ruangan kelas 1 yang aku tempati ber isi 2 pasien dan pada waktu aku masuk sudah ada 1 pasien yang menempati. Pasien dengan diagnose penyakit yang berbeda, seorang ibu dengan penyakit kangker rahim dan akan dilakukan operasi pada hari berikutnya. Kami bertegur sapa sebentar kemudian melanjutkan istrahat.

Beberapa saat kemudian perawat datang kembali membawa alat tensimeter untuk mengukur tekanan darah, membawa obat dan memberitahukan program pemeriksaan hari ini. Rawat inap kali ini ada beberapa dokter yang merawat dari dokter saraf, jantung, penyakit dalam, dan dokter yang akan melakukan program DSA.

Sambil menunggu jadwal penggunaan ruang untuk program DSA persiapan dilakukan selama 2 hari baik persiapan pysikis pasien maupun persiapan penunjang untuk program DSA.

Tibalah hari dimana program DSA dilakukan Jumat 3 desember 2020 jam 16.30 WIB sebelum tindakan aku harus puasa selama 6 jam. Aku dibantu suami mengganti pakaian yang aku kenakan dengan pakaian khusus untuk operasi.

Pearawat dengan tersenyum menanyakan kesiapan kepadaku:

“Sudah siap bu?” Kalau sudah siap kita berangkat menuju gedung elang untuk program DSA kata perawat lagi.

“ Insyaallah siap sus!” kata ku

Bismillahhirohmanirohim aku serahkan hidup dan matiku hanya pada mu ya Allah doa ku dalam hati.  

Sampai di depan ruang DSA perawat lain sudah menantiku. Aku pamit dengan anak dan suami

“ Pi, Mbak Asti… ibu masuk dulu ya doakan semua lancar!”

Aku mencium tangan suamiku mereka secara bergantian mencium pipiku, aku melihat mata mereka berkaca-kaca menahan tangis, aku berusaha tegar dengan memberikan mereka senyuman walaupun sebenarnya hati ini hancur aku sedih, takut akan resiko resiko kegagalan program DSA yang menurut dokter bisa terjadi kelumpuhan karena berkaitan dengan pembuluh darah otak yang akan di program DSA.

Perawat mendorong tempat tidurku menuju ruang DSA disana sudah ada beberapa perawat yang menyambut, siap memasang peralatan mulai menghidupkan computer dan peralatan lainya yang di perlukan untuk program DSA.

Dua kali sudah aku dibaringkan di bad ruang DSA, salah satu perawat menghampiriku, memasang kain-kain warna hijau di tubuhku entah ada berapa lapis yang di pasangkan sesuai dengan SOP ruangan itu, kemudian setelah semuanya siap perawat mengabarkan kepada dokter.

Dokter dan beberapa asisten dokter datang, melihat alat pantau jantung dokter menanyakan apakah aku dalam keadaan baik-baik saja. Dada sebelah kiri memang sakit sampai belakang aku berusaha menyembunyikan dari dokter tetapi dokter dengan keilmuan nya tahu kalau aku mengalami kesakitan pada dada kiri.

“Dada kiri ibu sakit”? Tanya dokter

“Iya dok” jawabku

Dokter menyuruh asisten nya mengambikan obat jantung dan di berikan di bawah lidahku sambil menginstrusikan untuk tidak langsung ditelan menunggu sampai mencair sendiri obat nya.

Setelah beberapa saat kemudian dokter melihat alat pantau jantung lagi karena sudah dianggap stabil dan saya juga sudah tidak merasakan nyeri lagi di dada kiri, dokter  memimpin doa agar semua berjalan lancar dan tidak membawa dampak buruk bagi saya. Setelah itu kemudian dokter menanyakan kesiapan ku:

“Sudah siap bu?” Kata dokter

“Insyaallah siap dok”! Jawabku

Aku mengetahui proses awal sampai dengan akhir karena aku hanya dibius lokal saja pada pembuluh darah arteri yang terletak dipangkal paha. Aku merasakan sakit silih berganti antar panas dan dingin pada kepalaku, kadang aku merasakan sangat panas di sebagian kepalaku kemudian beberapa saat aku juga merasakan dingin juga di kepalaku. Dan yang paling sakit aku rasakan adalah ketika proses DSA kepala bagian kiri, mata, telinga dan gigi sangat sakit, aku mendengar dokter berbicara pada asisten kalau penyumbatan terjadi di pembuluh darah vena otak bagian kepala kiri bawah.

“Ya Allah… Ya Rabb ku kuatkan aku”!!

Aku hanya bisa berdzikir memohon kepada Allah dan ber sholawat dalam hati selama proses awal sampai akhir DSA karena hanya itu yang mampu aku lakukan. Air mata mengalir menahan sakit.

Alhamdulillah proses DSA selama 1,5 jam selesai kemudian dokter beserta asisten meninggalkan ruangan tinggalah aku beserta perawat-perawat diruangan itu. Perawat mengambil kain penutup warna hijau yang menyelimuti badanku, memberi kain kassa beserta plester pada bekas luka di pembuluh darah arteri pangkal paha, mengambil alat-alat pantau jantung di dada, merapikan peralatan dan memindahkan aku ke tempat tidur untuk diantarkan ke ruangan perawatan.

Petugas mendorong tempat tidurku didampingi suami dan anak ku, setelah sampai diruangan bekas luka tindakan DSA diberi bantal dari pasir oleh perawat dan aku tidak boleh menggerakan kaki kanan selama 6 jam, dengan posisi tidur terlentang. Setelah itu aku juga tidak boleh turun dari tempat tidur selama 24 jam.

Setelah 10 hari menjalani perawatan pasca DSA sampai pemulihan, akhirnya aku di perbolehkan pulang. Dokter silih berganti rutin mengadakan kunjungan setiap harinya untuk memantau perkembangan kesehatanku di hari akhir kepulangan dokter menyampaikan hasil bahwa aku menderita penyakit CVST.

Trombosis sinus vena serebri, atau cerebral venous sinus thrombosis (CVST) adalah penyakit kelainan pembuluh darah akibat pembentukan gumpalan darah pada pembuluh darah di otak (sinus vena) seperti strok yang langka terjadi dengan gejala klinis dan gambaran radiologis yang bervariasi sehingga sulit untuk didiagnosis.

Sel-sel darah pecah dapat menyebabkan kebocoran darah ke jaringan otak dan menyebabkan pendarahan. Penyakit tersebut mempunyai angka kejadian <1% dari semua kasus penyakit strok, tidak termasuk angka kejadian pasti pada orang dewasa. (https://id.wikipedia.org/wiki/Trombosis_sinus_vena_serebri)

Aku hanya bisa menangis mendengarkan diagnosa dokter, aku tak bisa berkata apapun. Suamiku paham apa yang aku rasakan dia mendengarkan penjelasan dokter menanyakan penyebab, pengobatan, dan pantangan makanan untuku sambil sesekali mengusap tanganku untuk menguatkan. 

Dalam hati aku berguman, hidup dengan penyakit auto imun Myasthenia Gravis selama ini saja sudah berat, kenapa Engkau tambah lagi penyakit lain ya Allah?

“Ya Allah…Kalau engkau pilih aku untuk menjalani ini kuatkan!”

“Ya Allah…Kalau engkau pilih aku untuk menjalani ini berilah hamba keikhlasan, kesabran, tanamkan dihati ini untuk selalu berpikir positif kepada MU jangan biarkan hamba dalam keputus asaan yang menyesatkan.!”

“Ya Allah…tuntunlah hamba untuk mengambil hikmah dari apa yang engkau takdirkan untuk ku!”,

Hamba sangat percaya ya Allah…Engkau tak akan menguji hamba diluar batas kemampuan, Aamiin.

Senin, 07 November 2022

Hidup Kedua

 

Hidup Kedua

Selasa 11 September 2018 hari yang tak pernah aku lupakan dalam hidupku. Penanggalan Jawa menunjukkan tanggal 1 Suro atau umat islam menyebut tahun baru Islam.

Aku mengajak suami menjenguk putri kecilku di pondok pesantren YPRU Guyangan, Kabupaten Pati. Rasa kangen membuat aku semangat.

Kami mengendarai motor berboncengan, jaket, masker dan helm kami kenakan.

“Sudah siap Mi?” Suami menanyakan sambil menatap dan membetulkan helm yang aku pakai

“Insyaallah siap Pi!” kata ku

Suami mengajak berdoa bersama, tepat pukul 6.00 WIB pagi kami berangkat.

Sepanjang perjalanan yang ada di benakku, kenapa jalan begitu lengang, padahal hari ini tanggal merah dan biasanya jalanan ramai? Apa mungkin karena menurut kepercayaan sebagian masyarakat Jawa tanggal 1 Suro hari keramat dan dilarang bepergian?  

Ya entahlah, aku abaikan itu dan tetap melanjutkan perjalanan karena rasa rindu ingin bertemu anak di pondok pesantren sudah tidak tertahan. Satu jam perjalanan dari Semarang sudah kami tempuh, sehingga pukul 7.00 WIB kami sudah sampai di jalan lingkar Kabupaten Kudus. 

Sebelum pertigaan jalan Tanjung, tiba-tiba ada seorang bapak menyeberang jalan tanpa melihat kanan kiri. Seketika refleks suami mengerem motor dan pet! dunia gelap! Entah apa yang terjadi? Aku sudah tidak tahu lagi.

Menurut cerita suami, pada waktu helm dilepas, darah mengalir dari kepala sebelah kanan belakang. Orang-orang berdatangan berusaha menyadarkan aku, tetapi tetap saja tidak ada respon apapun, suami semakin panik karena tidak ada satu mobil pun yang lewat yang bisa membawa aku ke Rumah sakit 

Kebetulan kata suami, ada becak lewat. Aku beserta si bapak yang mau menyeberang tadi dinaikkan ke becak menuju rumah sakit terdekat. 

Yang aku ingat pertama ada suara di telinga berbisik:

“Bu, Ibu Istigfar bu!”  

“Bu, Ibu Istigfar bu!”

Suara itu terus terdengar membimbing aku untuk mengucapkan istighfar.

Aku bingung, dalam hati bacaan apa itu? Aku benar-benar lupa apa itu bacaan istigfar, aku dimana ini? Kenapa semua gelap? Kenapa mata, badan ku tidak bisa digerakan? Ya Allah kenapa suara itu terus menyuruhku membaca istigfar?

Allahhu Akbar, Entah kekuatan dari mana yang bisa menggerakan bibirku dan mengingatkan bacaan istigfar sehingga seketika terucap:

”Astaghfirullahal adzim” Setelah itu aku tidak tahu lagi apa yang terjadi.

Kemudian aku juga mendengar suara beberapa orang yang tidak aku kenal beserta dentingan peralatan-peralatan dari logam, dimana aku ini ya Allah? Aku mampu mendengar tapi tak mampu berbicara, mata dan tubuh tidak bisa digerakkan. 

Kemudian suara itu hilang lagi sepi, gelap hanya yang ada di pikiranku aku dimana? Kenapa semua lenggang Apakah aku sudah meninggal ya Allah?

Ya Allah bagaimana dengan anak-anak ku, dengan siapa mereka kalau aku pergi? Tolong hamba ya Allah, jangan panggil hamba, aku ingin hidup bersama dan mendampingi mereka.

Aku mendengar lagi suara adzan berkumandang, mata ini sudah bisa aku buka, aku meliat sekeliling ruangan ternyata aku sudah berada di Rumah Sakit. Aku melihat perawat dan dokter disebelahku. Perawat menatapku dan berkata kepada dokter:

“Pasien sudah sadar dokter!”

“Alhamdulillah kata dokter setelah sebelas jam akhir nya sadar juga”

“Ya Allah apa yang terjadi ini?”

“Kenapa badan aku sakit dan tidak bisa di gerakan?”

“Kenapa leher ku di beri penyangga?”.

Aku melihat suami di sebelahku, suami menceritakan apa yang terjadi, kemudian aku meminta suami untuk membimbing aku bangun dari tempat tidur karena aku merasa kepala pusing, setelah duduk aku merasakan bumi seperti berputar spontan aku berteriak:

“Ya Alah Ya Allah Ya Allah!”

Suami memanggil perawat karena melihat aku kesakitan, aku merasa bumi berputar dan aku pun terus menerus muntah, dengan cekatan perawat membersihkan muntahan di badan kemudian aku di suruh tiduran kembali, suami terus menenangkan membimbing aku untuk selalu ingat dan beristigfar kepada Allah.

Setelah lima hari aku mendapatkan perawatan, dokter mengatakan tidak ada hal serius yang harus dikhawatirkan, kemudian aku diperbolehkan pulang ke Semarang.

Dua hari di rumah, kondisi tidak semakin membaik. Aku dibawa lagi ke Rumah Sakit di Kota Semarang untuk dilakukan pemeriksaan ulang, ternyata hasil CT Scan menunjukkan kepala retak tiga sentimeter. Ada penggumpalan darah di otak 2,8 cc.

Aku menangis teringat kedua putriku yang masih membutuhkanku, suami yang selalu setia di sampingku, orang tua dan aku juga teringat dosa-dosaku kemudian terucap dari bibirku:

“Astaghfirullahal ‘ adzim ampuni aku ya Allah!”

Seketika teringat putri kecilku pernah mengalami hal yang sama, pendarahan di dalam kepala karena jatuh dan mengalami benturan sehinngga harus dioperasi. Aku masih trauma dengan kejadian itu, kemudian aku menanyakan sambil menangis kepada dokter:

“Apakah harus dioperasi dok?”

Dengan sabar kemudian dokter menjawab:

“Kita observasi dulu bu, ibu berdoa saja semoga tanpa operasi gumpalan darah di kepala bisa di keluarkan!”   

Alhamdulillah semua telah terlewati tanpa operasi berkat doa, dukungan, dan perawatan dari tenaga kesehatan serta dokter selama tujuh hari di Rumah sakit. Pengobatan terus berlanjut dengan rawat jalan dan harus rutin minum obat

Terimakasih ya Allah atas nikmat hidup kedua yang Kau berikan. Terimakasih ya Allah kau perkenankan aku untuk kembali memperbaiki diri untuk selalu berada di jalan Mu, menjadi istri untuk suami ku, menjadi ibu dari anak-anak ku, untuk mendampingi mereka sampai mereka sukses di dunia untuk bekal di akherat kelak. Aamiin.

 

 

 

KENANGAN HUT GURU 2021

  KENANGAN HUT GURU 2021  Hari ini, tepat setahun yang lalu peringatan HUT Guru Nasional ke 76 tahun 2021. Kala itu sekolah tempat aku men...