Hidup Kedua
Selasa 11 September
2018 hari yang tak pernah aku lupakan dalam hidupku. Penanggalan Jawa
menunjukkan tanggal 1 Suro atau umat islam menyebut tahun baru Islam.
Aku mengajak suami
menjenguk putri kecilku di pondok pesantren YPRU Guyangan, Kabupaten Pati. Rasa
kangen membuat aku semangat.
Kami mengendarai
motor berboncengan, jaket, masker dan helm kami kenakan.
“Sudah siap Mi?”
Suami menanyakan sambil menatap dan membetulkan helm yang aku pakai
“Insyaallah siap Pi!”
kata ku
Suami mengajak
berdoa bersama, tepat pukul 6.00 WIB pagi kami berangkat.
Sepanjang
perjalanan yang ada di benakku, kenapa jalan begitu lengang, padahal hari ini
tanggal merah dan biasanya jalanan ramai? Apa mungkin karena menurut kepercayaan
sebagian masyarakat Jawa tanggal 1 Suro hari keramat dan dilarang
bepergian?
Ya entahlah, aku abaikan
itu dan tetap melanjutkan perjalanan karena rasa rindu ingin bertemu anak di
pondok pesantren sudah tidak tertahan. Satu jam perjalanan dari Semarang sudah
kami tempuh, sehingga pukul 7.00 WIB kami sudah sampai di jalan lingkar Kabupaten
Kudus.
Sebelum pertigaan
jalan Tanjung, tiba-tiba ada seorang bapak menyeberang jalan tanpa melihat
kanan kiri. Seketika refleks suami mengerem motor dan pet! dunia gelap!
Entah apa yang terjadi? Aku sudah tidak tahu lagi.
Menurut cerita
suami, pada waktu helm dilepas, darah mengalir dari kepala sebelah kanan belakang.
Orang-orang berdatangan berusaha menyadarkan aku, tetapi tetap saja tidak ada
respon apapun, suami semakin panik karena tidak ada satu mobil pun yang lewat
yang bisa membawa aku ke Rumah sakit
Kebetulan kata
suami, ada becak lewat. Aku beserta si bapak yang mau menyeberang tadi
dinaikkan ke becak menuju rumah sakit terdekat.
Yang aku ingat
pertama ada suara di telinga berbisik:
“Bu, Ibu Istigfar
bu!”
“Bu, Ibu Istigfar
bu!”
Suara itu terus
terdengar membimbing aku untuk mengucapkan istighfar.
Aku bingung, dalam
hati bacaan apa itu? Aku benar-benar lupa apa itu bacaan istigfar, aku dimana
ini? Kenapa semua gelap? Kenapa mata, badan ku tidak bisa digerakan? Ya Allah
kenapa suara itu terus menyuruhku membaca istigfar?
Allahhu Akbar,
Entah kekuatan dari mana yang bisa menggerakan bibirku dan mengingatkan bacaan
istigfar sehingga seketika terucap:
”Astaghfirullahal
adzim” Setelah itu aku tidak tahu lagi apa yang terjadi.
Kemudian aku juga mendengar
suara beberapa orang yang tidak aku kenal beserta dentingan peralatan-peralatan
dari logam, dimana aku ini ya Allah? Aku mampu mendengar tapi tak mampu berbicara,
mata dan tubuh tidak bisa digerakkan.
Kemudian suara itu hilang
lagi sepi, gelap hanya yang ada di pikiranku aku dimana? Kenapa semua lenggang Apakah
aku sudah meninggal ya Allah?
Ya Allah bagaimana
dengan anak-anak ku, dengan siapa mereka kalau aku pergi? Tolong hamba ya
Allah, jangan panggil hamba, aku ingin hidup bersama dan mendampingi mereka.
Aku mendengar lagi
suara adzan berkumandang, mata ini sudah bisa aku buka, aku meliat sekeliling
ruangan ternyata aku sudah berada di Rumah Sakit. Aku melihat perawat dan
dokter disebelahku. Perawat menatapku dan berkata kepada dokter:
“Pasien sudah sadar
dokter!”
“Alhamdulillah kata
dokter setelah sebelas jam akhir nya sadar juga”
“Ya Allah apa yang
terjadi ini?”
“Kenapa badan aku
sakit dan tidak bisa di gerakan?”
“Kenapa leher ku di
beri penyangga?”.
Aku melihat suami
di sebelahku, suami menceritakan apa yang terjadi, kemudian aku meminta suami
untuk membimbing aku bangun dari tempat tidur karena aku merasa kepala pusing,
setelah duduk aku merasakan bumi seperti berputar spontan aku berteriak:
“Ya Alah Ya Allah Ya
Allah!”
Suami memanggil
perawat karena melihat aku kesakitan, aku merasa bumi berputar dan aku pun
terus menerus muntah, dengan cekatan perawat membersihkan muntahan di badan kemudian
aku di suruh tiduran kembali, suami terus menenangkan membimbing aku untuk
selalu ingat dan beristigfar kepada Allah.
Setelah lima hari
aku mendapatkan perawatan, dokter mengatakan tidak ada hal serius yang harus
dikhawatirkan, kemudian aku diperbolehkan pulang ke Semarang.
Dua hari di rumah,
kondisi tidak semakin membaik. Aku dibawa lagi ke Rumah Sakit di Kota
Semarang untuk dilakukan pemeriksaan ulang, ternyata hasil CT Scan menunjukkan
kepala retak tiga sentimeter. Ada penggumpalan darah di otak 2,8 cc.
Aku menangis
teringat kedua putriku yang masih membutuhkanku, suami yang selalu setia
di sampingku, orang tua dan aku juga teringat dosa-dosaku kemudian terucap dari
bibirku:
“Astaghfirullahal ‘
adzim ampuni aku ya Allah!”
Seketika teringat putri
kecilku pernah mengalami hal yang sama, pendarahan di dalam kepala karena jatuh
dan mengalami benturan sehinngga harus dioperasi. Aku masih trauma dengan
kejadian itu, kemudian aku menanyakan sambil menangis kepada dokter:
“Apakah harus
dioperasi dok?”
Dengan sabar
kemudian dokter menjawab:
“Kita observasi
dulu bu, ibu berdoa saja semoga tanpa operasi gumpalan darah di kepala bisa di
keluarkan!”
Alhamdulillah semua
telah terlewati tanpa operasi berkat doa, dukungan, dan perawatan dari tenaga
kesehatan serta dokter selama tujuh hari di Rumah sakit. Pengobatan terus berlanjut dengan rawat jalan dan harus
rutin minum obat
Terimakasih ya
Allah atas nikmat hidup kedua yang Kau berikan. Terimakasih ya Allah kau
perkenankan aku untuk kembali memperbaiki diri untuk selalu berada di jalan Mu, menjadi istri untuk suami ku, menjadi ibu dari anak-anak ku, untuk mendampingi
mereka sampai mereka sukses di dunia untuk bekal di akherat kelak. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar