Senin, 07 November 2022

Hidup Kedua

 

Hidup Kedua

Selasa 11 September 2018 hari yang tak pernah aku lupakan dalam hidupku. Penanggalan Jawa menunjukkan tanggal 1 Suro atau umat islam menyebut tahun baru Islam.

Aku mengajak suami menjenguk putri kecilku di pondok pesantren YPRU Guyangan, Kabupaten Pati. Rasa kangen membuat aku semangat.

Kami mengendarai motor berboncengan, jaket, masker dan helm kami kenakan.

“Sudah siap Mi?” Suami menanyakan sambil menatap dan membetulkan helm yang aku pakai

“Insyaallah siap Pi!” kata ku

Suami mengajak berdoa bersama, tepat pukul 6.00 WIB pagi kami berangkat.

Sepanjang perjalanan yang ada di benakku, kenapa jalan begitu lengang, padahal hari ini tanggal merah dan biasanya jalanan ramai? Apa mungkin karena menurut kepercayaan sebagian masyarakat Jawa tanggal 1 Suro hari keramat dan dilarang bepergian?  

Ya entahlah, aku abaikan itu dan tetap melanjutkan perjalanan karena rasa rindu ingin bertemu anak di pondok pesantren sudah tidak tertahan. Satu jam perjalanan dari Semarang sudah kami tempuh, sehingga pukul 7.00 WIB kami sudah sampai di jalan lingkar Kabupaten Kudus. 

Sebelum pertigaan jalan Tanjung, tiba-tiba ada seorang bapak menyeberang jalan tanpa melihat kanan kiri. Seketika refleks suami mengerem motor dan pet! dunia gelap! Entah apa yang terjadi? Aku sudah tidak tahu lagi.

Menurut cerita suami, pada waktu helm dilepas, darah mengalir dari kepala sebelah kanan belakang. Orang-orang berdatangan berusaha menyadarkan aku, tetapi tetap saja tidak ada respon apapun, suami semakin panik karena tidak ada satu mobil pun yang lewat yang bisa membawa aku ke Rumah sakit 

Kebetulan kata suami, ada becak lewat. Aku beserta si bapak yang mau menyeberang tadi dinaikkan ke becak menuju rumah sakit terdekat. 

Yang aku ingat pertama ada suara di telinga berbisik:

“Bu, Ibu Istigfar bu!”  

“Bu, Ibu Istigfar bu!”

Suara itu terus terdengar membimbing aku untuk mengucapkan istighfar.

Aku bingung, dalam hati bacaan apa itu? Aku benar-benar lupa apa itu bacaan istigfar, aku dimana ini? Kenapa semua gelap? Kenapa mata, badan ku tidak bisa digerakan? Ya Allah kenapa suara itu terus menyuruhku membaca istigfar?

Allahhu Akbar, Entah kekuatan dari mana yang bisa menggerakan bibirku dan mengingatkan bacaan istigfar sehingga seketika terucap:

”Astaghfirullahal adzim” Setelah itu aku tidak tahu lagi apa yang terjadi.

Kemudian aku juga mendengar suara beberapa orang yang tidak aku kenal beserta dentingan peralatan-peralatan dari logam, dimana aku ini ya Allah? Aku mampu mendengar tapi tak mampu berbicara, mata dan tubuh tidak bisa digerakkan. 

Kemudian suara itu hilang lagi sepi, gelap hanya yang ada di pikiranku aku dimana? Kenapa semua lenggang Apakah aku sudah meninggal ya Allah?

Ya Allah bagaimana dengan anak-anak ku, dengan siapa mereka kalau aku pergi? Tolong hamba ya Allah, jangan panggil hamba, aku ingin hidup bersama dan mendampingi mereka.

Aku mendengar lagi suara adzan berkumandang, mata ini sudah bisa aku buka, aku meliat sekeliling ruangan ternyata aku sudah berada di Rumah Sakit. Aku melihat perawat dan dokter disebelahku. Perawat menatapku dan berkata kepada dokter:

“Pasien sudah sadar dokter!”

“Alhamdulillah kata dokter setelah sebelas jam akhir nya sadar juga”

“Ya Allah apa yang terjadi ini?”

“Kenapa badan aku sakit dan tidak bisa di gerakan?”

“Kenapa leher ku di beri penyangga?”.

Aku melihat suami di sebelahku, suami menceritakan apa yang terjadi, kemudian aku meminta suami untuk membimbing aku bangun dari tempat tidur karena aku merasa kepala pusing, setelah duduk aku merasakan bumi seperti berputar spontan aku berteriak:

“Ya Alah Ya Allah Ya Allah!”

Suami memanggil perawat karena melihat aku kesakitan, aku merasa bumi berputar dan aku pun terus menerus muntah, dengan cekatan perawat membersihkan muntahan di badan kemudian aku di suruh tiduran kembali, suami terus menenangkan membimbing aku untuk selalu ingat dan beristigfar kepada Allah.

Setelah lima hari aku mendapatkan perawatan, dokter mengatakan tidak ada hal serius yang harus dikhawatirkan, kemudian aku diperbolehkan pulang ke Semarang.

Dua hari di rumah, kondisi tidak semakin membaik. Aku dibawa lagi ke Rumah Sakit di Kota Semarang untuk dilakukan pemeriksaan ulang, ternyata hasil CT Scan menunjukkan kepala retak tiga sentimeter. Ada penggumpalan darah di otak 2,8 cc.

Aku menangis teringat kedua putriku yang masih membutuhkanku, suami yang selalu setia di sampingku, orang tua dan aku juga teringat dosa-dosaku kemudian terucap dari bibirku:

“Astaghfirullahal ‘ adzim ampuni aku ya Allah!”

Seketika teringat putri kecilku pernah mengalami hal yang sama, pendarahan di dalam kepala karena jatuh dan mengalami benturan sehinngga harus dioperasi. Aku masih trauma dengan kejadian itu, kemudian aku menanyakan sambil menangis kepada dokter:

“Apakah harus dioperasi dok?”

Dengan sabar kemudian dokter menjawab:

“Kita observasi dulu bu, ibu berdoa saja semoga tanpa operasi gumpalan darah di kepala bisa di keluarkan!”   

Alhamdulillah semua telah terlewati tanpa operasi berkat doa, dukungan, dan perawatan dari tenaga kesehatan serta dokter selama tujuh hari di Rumah sakit. Pengobatan terus berlanjut dengan rawat jalan dan harus rutin minum obat

Terimakasih ya Allah atas nikmat hidup kedua yang Kau berikan. Terimakasih ya Allah kau perkenankan aku untuk kembali memperbaiki diri untuk selalu berada di jalan Mu, menjadi istri untuk suami ku, menjadi ibu dari anak-anak ku, untuk mendampingi mereka sampai mereka sukses di dunia untuk bekal di akherat kelak. Aamiin.

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KENANGAN HUT GURU 2021

  KENANGAN HUT GURU 2021  Hari ini, tepat setahun yang lalu peringatan HUT Guru Nasional ke 76 tahun 2021. Kala itu sekolah tempat aku men...