Peringatan
HUT Guru nasional ke 76 tahun 2021 sekolah tempat aku mengajar dilaksanakan
secara meriah dengan mengedepankan protokol kesehatan karena masih dalam masa
pandemi covid 19.
Kemeriahan
acara pagi ini mengusung tema “Bergerak
dengan Hati, Pulihkan Pendidikan”, sesuai dengan tema hari guru nasional. Tema tersebut
dipilih pemerintah mengingat sekarang dunia pendidikan juga sedang berjuang
memberikan pendidikan untuk generasi muda bangsa di tengah-tengah masa pemulihan
pasca pandemi covid 19.
Ada
yang mengiris hatiku ditengah kemeriahan pagi ini, hatiku pilu hatiku rindu
dengan diriku yang dulu. Semua bapak, ibu guru, karyawan dan anak-anak
berkumpul dilapangan kecuali aku yang hanya bisa duduk terdiam di kursi depan
ruang guru seraya merasakan sakit kepala yang terus menerus dan tak kuasa untuk
untuk berbuat apapun.
Semua
larut dalam gegap gempita, tak terasa air mataku menetes, terdengar cengeng
tapi itulah yang terjadi. Aku berusaha menyembunyikan kesedihanku, dan dengan
cepat segera aku hapus air mata menggunakan ujung kerudung yang aku kenakan.
Aku tak ingin teman-teman guru yang lain tahu kesedihan yang ku rasakan saat
ini.
Aku
berusaha membesarkan hati mencoba belajar ikhlas dengan keadaanku, tapi aku
hanya manusia biasa yang tak bisa menyembunyikan rasa itu.
“Ya
Allah… kapan cobaan sakit ini akan berakhir?”,
“Kapan
ya Allah?” Kembali air mata ini mengalir.
Sudah
lebih dari 5 tahun aku terbelenggu dengan berbagai pemyakit, silih berganti
diagnose dokter dan aku pun tidak bisa hidup normal seperti yang lain.
Aku
rindu diriku yang dulu. Aku ingin berkumpul dengan mereka dalam berbagai
kemeriahan acara tanpa rasa sakit dan bisa merasakan apa yang mereka rasakan
saat ini
“Ya
allah bantu hamba untuk sabar dan ikhlas!”. Pintaku dalam hati.
Sekitar
jam 10.00 WIB acara selesai dan anak-anak secara bergantian masuk kelas nya.
Kemudian aku pun masuk ruang guru menuju meja kerjaku untuk merapikan tas dan
barang bawaan, karena hari ini ada penjadwalan fisioterapi dan MRI dari Rumah
Sakit yang selama ini merawatku.
Magnetic resonance imaging (MRI) merupakan
pemeriksaan organ tubuh yang dilakukan dengan menggunakan teknologi magnet dan
gelombang radio. Sering dilakukan dan berkaitan dengan
pemeriksaan terhadap otak, saraf tulang belakang, jantung, pembuluh darah,
tulang, sendi, jaringan lunak, dan organ-organ tubuh lainnya.
Semua
teman guru masuk sambil membawa setangkai bunga mawar pemberian anak-anak
sebagai hadian HUT guru. Salah satu teman seniorku bu Sriatun mengampiriku dan
memberikan setangkai bunga mawar seraya bertanya:
“Mau
kemana nok kok sudah berkemas?” Panggilan nok sering teman-teman guru sematkan
untukku sebagai panggilan sayang mereka.
“Ke
rumah Sakit Kariadi mak, ada jadwal fisioterapi dan MRI kepala!” Jawabku sambil
tersenyum untuk menyembunyikan kesedihan hati.”
Dari
dulu kita satu kantor memang sangat akrab dan masing-masing memiliki panggilan
sayang yang berbeda walaupun beda usia dan aku mempunyai panggilan sayang buat beliau
yaitu “Mak.”
“Ya
sudah…hati-hati ya nok dan tetap semangat ya!”
“Siap
Mak laksanakan!”
Jawabku
sambil tetap tersenyum.
Tak
lupa aku juga pamit dengan teman-teman yang berada di ruang guru
“Friends
pamit ke Rumah Sakit Kariadi dulu ya… nanti kalau fisioterapi dan MRI selesai
awal, aku kembali ke sekolah lagi doa kan ya Friends!”.
Mereka
menjawab kompak “Hati-hati ya nok semangat!”
Kemudian
ku langkahkan kaki menuju ruang Kepala Sekolah untuk meminta ijin dan segera
setelah itu aku keluar gerbang sekolah dimana suamiku sudah siap disana untuk
mengantar aku ke Rumah Sakit.
Perjalanan
lancar hanya memerlukan waktu 20 menit aku sudah sampai di Rumah Sakit,
kemudian aku menuju bagian pendaftaran fisioterapi didampingi suamiku. Pasien
hari ini sangat banyak sehingga waktu menunggu terapi lama dari biasanya.
Tibalah
nama ku dipanggil petugas untuk menuju ruang fisioterapi, terapis dengan sigap
memasang alat-alat dan proses fisioterapi berjalan 30 menit. Terapi ini diprogramkan
dokter untuk menghilangkan sakit di pinggang belakang yang menjalar sampai ke
kaki kanan sehingga aku kesulitan berjalan. Aku harus menjalani program ini
selama 8 kali dalam 1 bulan dan di jadwalkan seminngu 2 kali program.
Selesai
program fisioterapi aku didampingi suami menuju gedung Kaswari Rumah Sakit
Kariadi Semarang untuk melakukan program MRI yang sudah dijadwalkan. Aku harus
menunggu antrian untuk program ini selama 1 bulan karena memang banyaknya
pasien yang membutuhkan.
Program
MRI kepala bukan kali pertama bagiku, karena pada tahun 2019 aku juga pernah. Aku
sudah tahu betul apa yang harus dilakukan. Sebelum tindakan MRI aku di wajibkan
test lab darah dan puasa 4 jam.
Sebelum
masuk ke ruang MRI, aku dihampiri dokter kemudian dia memperkenalkan diri terlebih
dahulu sebelum aku di periksa, selanjutnya dokter menanyakan identitas aku
mulai dari nama, no rekam medis, kemudian dicocokan dengan data yang ada,
setelah dinyatakan benar dokter menanyakan apa yang dirasakan saat ini:
“
Apa yang ibu rasakan?”, Tanya dokter
“
Kepala sakit berpindah pindah, terus menerus dan rasanya juga panas,
keseimbangan badan terganggu sering mau jatuh, tidak bisa jalan lurus, tidak
bisa berdiri di garis lurus, dan leher terasa kaku sakit,” jawabku pelan.
Kemudian
dokter menuliskan apa yang aku katakan pada selembar kertas, dokter masuk
kembali ke dalam ruangan nya. Beberapa saat kemudian dokter datang lagi sambil
membawa jarum suntik.
“
Permisi ya bu… ibu saya suntik test alergi dulu karena nanti MRI akan
menggunakan cairan contras, ini untuk mengetahui apa ibu alergi cairan contras
apa tidak?”
Aku
mengangguk tanda setuju, kemudian dokter menyutikan di tangan sebelah kiri dan
melingkari sekitar bekas suntikan menggunakan bolpoint sebagai tanda. Aku
disuruh menunggu 15 menit apabila dirasa aman tidak ada gejala lain kemudian
dilakukan MRI.
Alhamdulillah
tidak ada gejala lain kemudian aku di panggil menuju ruangan MRI, aku di
persilahkan berbaring dan perawat dengan sigap memasang peralatan. Aku
menanyakan kepada perawat bagian kepala mana yang akan di MRI dan perawat
menjelaskan kalau aku harus menjalani MRI untuk pembuluh darah otak.
Aku
hanya bisa berdoa semoga MRI lancar dan hasilnya pun baik. Proses ini memakan
waktu kurang lebih 2 jam dengan suara yang sangat bising dengan berbagai macam
suara, aku hanya bisa berdoa dan bersholawat.
Alhamdulillah
MRI berjalan lancar. Akan tetapi karena kondisi kesehatan ku yang kurang bagus,
selesai program ini aku harus dibantu turun,
keluar dari ruanganpun masih sempoyongan dan mual sehingga butuh waktu
beberapa saat untuk pemulihan dan di perbolehkan pulang.
Sesampainya
di loby gedung suami bergegas menuju parkiran mobil, mengambil mobil dan
menggendong aku masuk ke dalam mobil. Tak terasa air mata menetes. Sambil
menyetir mobil suami ku mengusap kepalaku sambal berkata:
“Sabar
ya mi!”,
“Iya”
jawabku,
Sambil
menangis sesenggukan aku berkata:
“Makasih
ya pi selama ini selalu mendampingi disaat susah dan senangku!”
Dalam hati aku berdoa:
“Ya
Allah…Ya Raab ku… berikan kesabaran, keikhlasan, untuk menjalani takdir yang
engkau berikan, beri kekuatan!”,
“Ya
Allah…Ya Rabb ku…Hamba sangat percaya engkau tak akan memberikan ujian di atas
batas kemampuan ku dan engkau pilih aku karena aku mampu!”. Aamiin
Kisah mengharukan. Namun demikian, tetap bersemangat!
BalasHapusTerimakasih Pak D sudah mampir dan membaca kisah saya. Insyaallah tetap semangat
BalasHapus
BalasHapusSejak dahulu temanku ini luar biasa dlm segala hal
Saya hanya manusia biasa yang sedang belajar ikhlas. Terimakasih sudah membaca cerita saya
HapusSemangat mbak, insyaallah dimampukan, karena jenengan yang dipilih Allah, aamiin
BalasHapusAamiin. Matursuwun Mbak Nita sahabatu dukungan dan doa nya
BalasHapus