Rabu, 23 Maret 2022

Hatiku Pilu Hatiku Rindu

 

Hatiku Pilu Hatiku Rindu

Peringatan HUT Guru nasional ke 76 tahun 2021 sekolah tempat aku mengajar dilaksanakan secara meriah dengan mengedepankan protokol kesehatan karena masih dalam masa pandemi covid 19.

Kemeriahan acara pagi ini mengusung tema “Bergerak dengan Hati, Pulihkan Pendidikan”, sesuai dengan tema hari guru nasional. Tema tersebut dipilih pemerintah mengingat sekarang dunia pendidikan juga sedang berjuang memberikan pendidikan untuk generasi muda bangsa di tengah-tengah masa pemulihan pasca pandemi covid 19.

Ada yang mengiris hatiku ditengah kemeriahan pagi ini, hatiku pilu hatiku rindu dengan diriku yang dulu. Semua bapak, ibu guru, karyawan dan anak-anak berkumpul dilapangan kecuali aku yang hanya bisa duduk terdiam di kursi depan ruang guru seraya merasakan sakit kepala yang terus menerus dan tak kuasa untuk untuk berbuat apapun.

Semua larut dalam gegap gempita, tak terasa air mataku menetes, terdengar cengeng tapi itulah yang terjadi. Aku berusaha menyembunyikan kesedihanku, dan dengan cepat segera aku hapus air mata menggunakan ujung kerudung yang aku kenakan. Aku tak ingin teman-teman guru yang lain tahu kesedihan yang ku rasakan saat ini.

Aku berusaha membesarkan hati mencoba belajar ikhlas dengan keadaanku, tapi aku hanya manusia biasa yang tak bisa menyembunyikan rasa itu.  

“Ya Allah… kapan cobaan sakit ini akan berakhir?”,

“Kapan ya Allah?” Kembali air mata ini mengalir.

Sudah lebih dari 5 tahun aku terbelenggu dengan berbagai pemyakit, silih berganti diagnose dokter dan aku pun tidak bisa hidup normal seperti yang lain.

Aku rindu diriku yang dulu. Aku ingin berkumpul dengan mereka dalam berbagai kemeriahan acara tanpa rasa sakit dan bisa merasakan apa yang mereka rasakan saat ini

“Ya allah bantu hamba untuk sabar dan ikhlas!”. Pintaku dalam hati.

Sekitar jam 10.00 WIB acara selesai dan anak-anak secara bergantian masuk kelas nya. Kemudian aku pun masuk ruang guru menuju meja kerjaku untuk merapikan tas dan barang bawaan, karena hari ini ada penjadwalan fisioterapi dan MRI dari Rumah Sakit yang selama ini merawatku.

Magnetic resonance imaging (MRI) merupakan pemeriksaan organ tubuh yang dilakukan dengan menggunakan teknologi magnet dan gelombang radio. Sering dilakukan dan berkaitan dengan pemeriksaan terhadap otak, saraf tulang belakang, jantung, pembuluh darah, tulang, sendi, jaringan lunak, dan organ-organ tubuh lainnya.

Semua teman guru masuk sambil membawa setangkai bunga mawar pemberian anak-anak sebagai hadian HUT guru. Salah satu teman seniorku bu Sriatun mengampiriku dan memberikan setangkai bunga mawar seraya bertanya:

“Mau kemana nok kok sudah berkemas?” Panggilan nok sering teman-teman guru sematkan untukku sebagai panggilan sayang mereka.

“Ke rumah Sakit Kariadi mak, ada jadwal fisioterapi dan MRI kepala!” Jawabku sambil tersenyum untuk menyembunyikan kesedihan hati.”

Dari dulu kita satu kantor memang sangat akrab dan masing-masing memiliki panggilan sayang yang berbeda walaupun beda usia dan aku mempunyai panggilan sayang buat beliau yaitu “Mak.”

“Ya sudah…hati-hati ya nok dan tetap semangat ya!”

“Siap Mak laksanakan!”

Jawabku sambil tetap tersenyum.

Tak lupa aku juga pamit dengan teman-teman yang berada di ruang guru

“Friends pamit ke Rumah Sakit Kariadi dulu ya… nanti kalau fisioterapi dan MRI selesai awal, aku kembali ke sekolah lagi doa kan ya Friends!”.

Mereka menjawab kompak “Hati-hati ya nok semangat!”

Kemudian ku langkahkan kaki menuju ruang Kepala Sekolah untuk meminta ijin dan segera setelah itu aku keluar gerbang sekolah dimana suamiku sudah siap disana untuk mengantar aku ke Rumah Sakit.

Perjalanan lancar hanya memerlukan waktu 20 menit aku sudah sampai di Rumah Sakit, kemudian aku menuju bagian pendaftaran fisioterapi didampingi suamiku. Pasien hari ini sangat banyak sehingga waktu menunggu terapi lama dari biasanya.

Tibalah nama ku dipanggil petugas untuk menuju ruang fisioterapi, terapis dengan sigap memasang alat-alat dan proses fisioterapi berjalan 30 menit. Terapi ini diprogramkan dokter untuk menghilangkan sakit di pinggang belakang yang menjalar sampai ke kaki kanan sehingga aku kesulitan berjalan. Aku harus menjalani program ini selama 8 kali dalam 1 bulan dan di jadwalkan seminngu 2 kali program.

Selesai program fisioterapi aku didampingi suami menuju gedung Kaswari Rumah Sakit Kariadi Semarang untuk melakukan program MRI yang sudah dijadwalkan. Aku harus menunggu antrian untuk program ini selama 1 bulan karena memang banyaknya pasien yang membutuhkan.

Program MRI kepala bukan kali pertama bagiku, karena pada tahun 2019 aku juga pernah. Aku sudah tahu betul apa yang harus dilakukan. Sebelum tindakan MRI aku di wajibkan test lab darah dan puasa 4 jam.

Sebelum masuk ke ruang MRI, aku dihampiri dokter kemudian dia memperkenalkan diri terlebih dahulu sebelum aku di periksa, selanjutnya dokter menanyakan identitas aku mulai dari nama, no rekam medis, kemudian dicocokan dengan data yang ada, setelah dinyatakan benar dokter menanyakan apa yang dirasakan saat ini:  

“ Apa yang ibu rasakan?”, Tanya dokter

“ Kepala sakit berpindah pindah, terus menerus dan rasanya juga panas, keseimbangan badan terganggu sering mau jatuh, tidak bisa jalan lurus, tidak bisa berdiri di garis lurus, dan leher terasa kaku sakit,” jawabku pelan.

Kemudian dokter menuliskan apa yang aku katakan pada selembar kertas, dokter masuk kembali ke dalam ruangan nya. Beberapa saat kemudian dokter datang lagi sambil membawa jarum suntik.

“ Permisi ya bu… ibu saya suntik test alergi dulu karena nanti MRI akan menggunakan cairan contras, ini untuk mengetahui apa ibu alergi cairan contras apa tidak?”

Aku mengangguk tanda setuju, kemudian dokter menyutikan di tangan sebelah kiri dan melingkari sekitar bekas suntikan menggunakan bolpoint sebagai tanda. Aku disuruh menunggu 15 menit apabila dirasa aman tidak ada gejala lain kemudian dilakukan MRI.

Alhamdulillah tidak ada gejala lain kemudian aku di panggil menuju ruangan MRI, aku di persilahkan berbaring dan perawat dengan sigap memasang peralatan. Aku menanyakan kepada perawat bagian kepala mana yang akan di MRI dan perawat menjelaskan kalau aku harus menjalani MRI untuk pembuluh darah otak.

Aku hanya bisa berdoa semoga MRI lancar dan hasilnya pun baik. Proses ini memakan waktu kurang lebih 2 jam dengan suara yang sangat bising dengan berbagai macam suara, aku hanya bisa berdoa dan bersholawat.

Alhamdulillah MRI berjalan lancar. Akan tetapi karena kondisi kesehatan ku yang kurang bagus, selesai program ini aku harus dibantu turun,  keluar dari ruanganpun masih sempoyongan dan mual sehingga butuh waktu beberapa saat untuk pemulihan dan di perbolehkan pulang.

Sesampainya di loby gedung suami bergegas menuju parkiran mobil, mengambil mobil dan menggendong aku masuk ke dalam mobil. Tak terasa air mata menetes. Sambil menyetir mobil suami ku mengusap kepalaku sambal berkata:

“Sabar ya mi!”,

“Iya” jawabku,

Sambil menangis sesenggukan aku berkata:

“Makasih ya pi selama ini selalu mendampingi disaat susah dan senangku!”

 Dalam hati aku berdoa:

“Ya Allah…Ya Raab ku… berikan kesabaran, keikhlasan, untuk menjalani takdir yang engkau berikan, beri kekuatan!”,

“Ya Allah…Ya Rabb ku…Hamba sangat percaya engkau tak akan memberikan ujian di atas batas kemampuan ku dan engkau pilih aku karena aku mampu!”. Aamiin

6 komentar:

  1. Kisah mengharukan. Namun demikian, tetap bersemangat!

    BalasHapus
  2. Terimakasih Pak D sudah mampir dan membaca kisah saya. Insyaallah tetap semangat

    BalasHapus

  3. Sejak dahulu temanku ini luar biasa dlm segala hal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya hanya manusia biasa yang sedang belajar ikhlas. Terimakasih sudah membaca cerita saya

      Hapus
  4. Semangat mbak, insyaallah dimampukan, karena jenengan yang dipilih Allah, aamiin

    BalasHapus
  5. Aamiin. Matursuwun Mbak Nita sahabatu dukungan dan doa nya

    BalasHapus

KENANGAN HUT GURU 2021

  KENANGAN HUT GURU 2021  Hari ini, tepat setahun yang lalu peringatan HUT Guru Nasional ke 76 tahun 2021. Kala itu sekolah tempat aku men...